Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa beberapa produk makanan tertentu dapat menjadi pemicu timbulnya jerawat atau acne. Suatu penelitian besar tentang hal tersebut pernah dilakukan dan dipublikasikan dalam Journal of the American Academy of Dermatology.
Selama ini para dermatologist mengatakan bahwa jerawat yang terjadi pada seseorang dipengaruhi oleh faktor genetik dan ketidakseimbangan hormon, dan biasanya terjadi pada mereka yang sedang mengalami masa pubertas, kehamilan, dan menopause.
Para peneliti kemudian melakukan pengujian dengan menganalisa kebiasaan makan yang dilakukan sejumlah 50.000 orang, khususnya dipelajari tentang kebiasaan makan para remaja di usia sekolah.
Mereka yang minum tiga gelas susu atau lebih dalam seharinya, ternyata 22% lebih sering mengalami jerawat dibandingkan dengan mereka yang hanya minum satu gelas susu atau tidak sama sekali.
Berdasarkan hal itu, susu skim diduga sebagai penyebab utama terjadinya jerawat. Krim keju dan keju lembut juga diduga sebagai penyebab terbesar, sedangkan coklat dan makanan berminyak ternyata tidak terlalu berpengaruh banyak terhadap terjadinya jerawat.
Sumber: Journal of the American Academy of Dermatology
Minggu, 03 Mei 2009
Pendidikan seks
Pendidikan seks merupakan suatu penjelasan mengenai permasalahan seksualitas yang diinformasikan secara jelas dan benar, meliputi proses:
1. Pembuahan
2. Kehamilan sampai kelahiran
3. Tingkah laku seksual
4. Hubungan seksual
5. Aspek-aspek kesehatan, kejiwaan, dan kemasyarakatan.
Pendidikan seks bertujuan dapat membantu remaja untuk menghadapi masalah hidup yang berkaitan pada dorongan seksual. Masalah pendidikan seksual yang diberikan harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, seperti apa yang dilarang, apa yang diperbolehkan, dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar norma yang berlaku dalam masyarakat.
Pendidikan seks ini seharusnya diberikan oleh orangtua sejak dini ketika anak mulai bertanya mengenai perbedaan kelamin antara dirinya dan lawan jenis. Pemberian pendidikan seks pada anak dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan, umur, serta daya tangkap anak.
Tujuan Pendidikan Seks dilakukan:
1. Memberikan pengertian mengenai perubahan fisik, mental, dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja.
2. Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (berdasarkan peran, tuntutan dan tanggungjawab).
3. Memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual.
4. Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual.
5. Mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan.
6. Menerangkan berbagai macam aspek, seperti aspek anatomis, biologis, psikologis, dan moral. Pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia, nilai-nilai kultur, dan agama.
7. Bertujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggung jawab.
8. Mempersiapkan agar remaja mengetahui lebih banyak mengenai seks dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, adat istiadat, kesiapan mental, dan material seseorang.
9. Memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusilaan.
Jadi tujuan pendidikan seks adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual, dan membimbing anak ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab (terutama dalam kehidupan seksualnya). Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor. Tetapi merupakan anugrah Tuhan dan berfungsi penting untuk kelanggengan kehidupan manusia, belajar menghargai kemampuan seksnya dan hanya menyalurkan dorongan tersebut untuk tujuan tertentu (yang baik) dan pada waktu yang tertentu saja.
1. Pembuahan
2. Kehamilan sampai kelahiran
3. Tingkah laku seksual
4. Hubungan seksual
5. Aspek-aspek kesehatan, kejiwaan, dan kemasyarakatan.
Pendidikan seks bertujuan dapat membantu remaja untuk menghadapi masalah hidup yang berkaitan pada dorongan seksual. Masalah pendidikan seksual yang diberikan harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, seperti apa yang dilarang, apa yang diperbolehkan, dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar norma yang berlaku dalam masyarakat.
Pendidikan seks ini seharusnya diberikan oleh orangtua sejak dini ketika anak mulai bertanya mengenai perbedaan kelamin antara dirinya dan lawan jenis. Pemberian pendidikan seks pada anak dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan, umur, serta daya tangkap anak.
Tujuan Pendidikan Seks dilakukan:
1. Memberikan pengertian mengenai perubahan fisik, mental, dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja.
2. Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (berdasarkan peran, tuntutan dan tanggungjawab).
3. Memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual.
4. Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual.
5. Mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan.
6. Menerangkan berbagai macam aspek, seperti aspek anatomis, biologis, psikologis, dan moral. Pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia, nilai-nilai kultur, dan agama.
7. Bertujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggung jawab.
8. Mempersiapkan agar remaja mengetahui lebih banyak mengenai seks dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, adat istiadat, kesiapan mental, dan material seseorang.
9. Memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusilaan.
Jadi tujuan pendidikan seks adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual, dan membimbing anak ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab (terutama dalam kehidupan seksualnya). Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor. Tetapi merupakan anugrah Tuhan dan berfungsi penting untuk kelanggengan kehidupan manusia, belajar menghargai kemampuan seksnya dan hanya menyalurkan dorongan tersebut untuk tujuan tertentu (yang baik) dan pada waktu yang tertentu saja.
Emosi Remaja
Masa remaja (usia 12 sampai dengan 21 tahun) dikenal dengan masa storm and stress. Pada masa ini terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis.
Pada masa remaja terdapat beberapa fase:
1. Fase remaja awal (usia 12 tahun sampai dengan 15 tahun).
2. Fase remaja pertengahan (usia 15 tahun sampai dengan 18 tahun).
3. Fase remaja akhir (usia 18 sampai dengan 21 tahun).
4. Fase pubertas, (usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 16 tahun), merupakan fase yang singkat dan terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya.
Masa pubertas berada tumpang tindih antara masa kanak-kanak dan masa remaja, sehingga kesulitan yang ada pada masa tersebut dapat menyebabkan remaja mengalami kesulitan dalam menghadapi fase perkembangan selanjutnya. Pada fase tersebut, remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon (dalam tubuhnya) yang memberi dampak baik pada bentuk fisik (terutama organ-organ seksual) dan psikis, terutama emosi.
Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari pengaruh lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah, teman-teman sebaya, serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Masa remaja identik dengan lingkungan sosial. Lingkungan sosial menuntut mereka untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif. Jika aktivitas-aktivitas yang dijalani di sekolah, di mana sebagian besar waktunya berada di sana, tidak memadai untuk memenuhi tuntutan gejolak energinya, maka remaja seringkali meluapkan kelebihan energinya ke arah yang negatif (contoh: tawuran).
Pada masa remaja terdapat beberapa fase:
1. Fase remaja awal (usia 12 tahun sampai dengan 15 tahun).
2. Fase remaja pertengahan (usia 15 tahun sampai dengan 18 tahun).
3. Fase remaja akhir (usia 18 sampai dengan 21 tahun).
4. Fase pubertas, (usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 16 tahun), merupakan fase yang singkat dan terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya.
Masa pubertas berada tumpang tindih antara masa kanak-kanak dan masa remaja, sehingga kesulitan yang ada pada masa tersebut dapat menyebabkan remaja mengalami kesulitan dalam menghadapi fase perkembangan selanjutnya. Pada fase tersebut, remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon (dalam tubuhnya) yang memberi dampak baik pada bentuk fisik (terutama organ-organ seksual) dan psikis, terutama emosi.
Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari pengaruh lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah, teman-teman sebaya, serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Masa remaja identik dengan lingkungan sosial. Lingkungan sosial menuntut mereka untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif. Jika aktivitas-aktivitas yang dijalani di sekolah, di mana sebagian besar waktunya berada di sana, tidak memadai untuk memenuhi tuntutan gejolak energinya, maka remaja seringkali meluapkan kelebihan energinya ke arah yang negatif (contoh: tawuran).
menstrulasi berkaitan dengan umur
Menstruasi (menarche) yang muncul dini umumnya dikaitkan dengan usia pendek. Demikian yang dipublikasikan oleh American Journal of Epidermiology.
Dalam studi panjang yang dilakukan selama 37 tahun oleh 61 ribu wanita asal Norwegia yang lahir antara akhir tahun 1800-an dan 1920-an. Para peneliti menemukan bahwa wanita yang mulai menstruasi lebih awal memiliki resiko meninggal lebih cepat.
Ditemukan bahwa mereka yang menstruasi pada usia 10 tahun / 11 tahun, beresiko meninggal 10% lebih cepat dibandingkan dengan wanita yang memulai menstruasi pada umur 14 tahun. Sebalinya, wanita yang mengalami menstruasi pertama pada usia 15 tahun ke atas memiliki resiko meninggal muda yang lebih rendah. Hal ini tetap berlaku setelah faktor sosial ekonomi dan berat badan turut dipertimbangkan.
Tim peneliti menduga ada beberapa faktor yang tidak terukur dalam studi ini, seperti kebiasaan merokok dan berolahraga, turut berperan dalam hasil yang dipilih. Aktifitas yang intensif diketahui dapat menunda atau mengganggu siklus menstruasi.
Para peneliti berspekulasi kembali, ada kemungkinan menstruasi yang lebih lambat merefleksikan seorang wanita lebih muda secara biologis dari usia yang sebenarnya.
Studi lainnya menunjukkan bahwa gadis-gadis di negara barat kini menstruasi lebih cepat daripada sebelumnya. Umumnya rata-rata usia menstruasi adalah 12 tahun. Para peneliti yakin bahwa salah satu alasannya adalah semakin tingginya tingkat anak-anak yang kelebihan berat badan (lemak tubuh membantu memicu dan mempertahankan siklus menstruasi).
Dalam studi panjang yang dilakukan selama 37 tahun oleh 61 ribu wanita asal Norwegia yang lahir antara akhir tahun 1800-an dan 1920-an. Para peneliti menemukan bahwa wanita yang mulai menstruasi lebih awal memiliki resiko meninggal lebih cepat.
Ditemukan bahwa mereka yang menstruasi pada usia 10 tahun / 11 tahun, beresiko meninggal 10% lebih cepat dibandingkan dengan wanita yang memulai menstruasi pada umur 14 tahun. Sebalinya, wanita yang mengalami menstruasi pertama pada usia 15 tahun ke atas memiliki resiko meninggal muda yang lebih rendah. Hal ini tetap berlaku setelah faktor sosial ekonomi dan berat badan turut dipertimbangkan.
Tim peneliti menduga ada beberapa faktor yang tidak terukur dalam studi ini, seperti kebiasaan merokok dan berolahraga, turut berperan dalam hasil yang dipilih. Aktifitas yang intensif diketahui dapat menunda atau mengganggu siklus menstruasi.
Para peneliti berspekulasi kembali, ada kemungkinan menstruasi yang lebih lambat merefleksikan seorang wanita lebih muda secara biologis dari usia yang sebenarnya.
Studi lainnya menunjukkan bahwa gadis-gadis di negara barat kini menstruasi lebih cepat daripada sebelumnya. Umumnya rata-rata usia menstruasi adalah 12 tahun. Para peneliti yakin bahwa salah satu alasannya adalah semakin tingginya tingkat anak-anak yang kelebihan berat badan (lemak tubuh membantu memicu dan mempertahankan siklus menstruasi).
Cara kerja payudara menghasilkan ASI
Air Susu Ibu (ASI) diproduksi dari hasil kerja sama antara faktor hormonal dan syaraf. Ini saja sudah cukup ajaib. Ayo telusuri dari awal. Mulailah dari hormon estrogren. Hormon estrogen adalah hormon seks yang diproduksi oleh rahim untuk merangsang pertumbuhan organ seks, seperti payudara dan rambut pubik, mengatur siklus menstruasi. Hormon estrogen juga berperan menjaga tekstur dan fungsi payudara. Pada perempuan hamil, hormon estrogen membuat puting payudara membesar dan merangsang pertumbuhan kelenjar ASI. Selain itu, hormon estrogen memperkuat dinding rahim saat terjadi kontraksi menjelang persalinan.
Payudara sendiri terdiri dari kumpulan kelenjar dan jaringan lemak yang terletak di antara kulit dan tulang dada. Kelenjar di dalam payudara akan menghasilkan susu setelah seorang perempuan melahirkan. Kelenjar-kelenjar susu disebut lobule yang membentuk lobe atau kantung penghasil susu. Terdapat 15 sampai 20 kantung penghasil susu pada setiap payudara, yang dihubungkan dengan saluran susu yang terkumpul di dalam puting. Bagian dalam payudara terdiri dari jaringan lemak dan jaringan berserat yang saling berhubungan, yang mengikat payudara dan mempengaruhi bentuk dan ukuran payudara. Terdapat juga pembuluh darah dan kelenjar getah bening.
Air susu tak diproduksi selama kehamilan karena ada faktor-faktor yang menekan pelepasan hormon prolaktin. Salah satunya berkat kerja hormon estrogen itu. Bisa dibayangkan jka susu sudah diproduksi sejak awal kehamilan sementara belum ada yang mengisapnya, para bunda harus buang ASI tiap hari. Mubazir bukan? Tuhan tak mau memberikan kemubaziran itu dengan keajaiban yang diberikannya pada proses produksi ASI ini sehingga kelenjar payudara tak memproduksi ASI pada saat hamil.
Pada seorang perempuan yang hamil kelenjar payudaranya akan makin berkembang oleh pengaruh hormon estrogen, somatomamotropin, dan prolaktin. Proses tersebut dimulai pada trimester pertama kehamilan. Hormon estrogen berfungsi untuk membuat hipertrofi sistem duktus (saluran). Sedangkan hormon progesteron berfungsi untuk menambahkan sel-sel asinus pada payudara. Somatomamotropin berfungsi untuk pertumbuhan asinus dan perubahan-perubahan dalam sel, pembentukan kasein, laktoalbumin, dan laktoglobulin. Selama proses kehamilan, air susu tidak keluar karena hormon prolaktin yang merangsang pengeluaran ASI dihambat oleh Prolactin Inhibiting Hormone (PIH).
Pada akhir masa kehamilan payudara akan memproduksi kolostrum walaupun jumlah air susu yang dapat dihasilkan belum banyak. Kondisi yang demikian disebabkan oleh kerja dari hormon progesteron. Saat bersalin, saat plasenta keluar dari tubuh, kadar progesteron langsung turun secara drastis, sedangkan hormon prolaktin tetap tinggi. Keadaan yang demikian membuat produksi susu meningkat jumlahnya. Proses produksi sampai air susu memenuhi payudara adalah satu hingga tiga hari. Oleh karena itu, jangan khawatir apabila air susu belum keluar atau yang keluar hanya sedikit sekali pada hari-hari pertama. Pada saat ini yang keluar masih kolostrum.
Kolostrum adalah cairan pertama yang diproduksi payudara saat produksi ASI dimulai. Cairan kolostrum berbentuk encer, manis, dan mudah dicerna. Awalnya kolostrum berbentuk kental dan berwarna kuning. Semakin dekat dengan persalinan, kolostrum mencair dan berwarna pucat.
Pada saat Air Susu Ibu (ASI) sudah diproduksi, peran hormon oksitosin dibutuhkan.Hormon ini memastikan terjadinya kerutan otot di sekitar saluran susu, menggerakkan susu dari kelenjar susu ke puting sehingga mudah dicapai oleh bayi saat disusui. Hmm...menarik bukan? Proses terjadinya ASI. Jadi, jangan lupa, "Say YES to ASI"
Payudara sendiri terdiri dari kumpulan kelenjar dan jaringan lemak yang terletak di antara kulit dan tulang dada. Kelenjar di dalam payudara akan menghasilkan susu setelah seorang perempuan melahirkan. Kelenjar-kelenjar susu disebut lobule yang membentuk lobe atau kantung penghasil susu. Terdapat 15 sampai 20 kantung penghasil susu pada setiap payudara, yang dihubungkan dengan saluran susu yang terkumpul di dalam puting. Bagian dalam payudara terdiri dari jaringan lemak dan jaringan berserat yang saling berhubungan, yang mengikat payudara dan mempengaruhi bentuk dan ukuran payudara. Terdapat juga pembuluh darah dan kelenjar getah bening.
Air susu tak diproduksi selama kehamilan karena ada faktor-faktor yang menekan pelepasan hormon prolaktin. Salah satunya berkat kerja hormon estrogen itu. Bisa dibayangkan jka susu sudah diproduksi sejak awal kehamilan sementara belum ada yang mengisapnya, para bunda harus buang ASI tiap hari. Mubazir bukan? Tuhan tak mau memberikan kemubaziran itu dengan keajaiban yang diberikannya pada proses produksi ASI ini sehingga kelenjar payudara tak memproduksi ASI pada saat hamil.
Pada seorang perempuan yang hamil kelenjar payudaranya akan makin berkembang oleh pengaruh hormon estrogen, somatomamotropin, dan prolaktin. Proses tersebut dimulai pada trimester pertama kehamilan. Hormon estrogen berfungsi untuk membuat hipertrofi sistem duktus (saluran). Sedangkan hormon progesteron berfungsi untuk menambahkan sel-sel asinus pada payudara. Somatomamotropin berfungsi untuk pertumbuhan asinus dan perubahan-perubahan dalam sel, pembentukan kasein, laktoalbumin, dan laktoglobulin. Selama proses kehamilan, air susu tidak keluar karena hormon prolaktin yang merangsang pengeluaran ASI dihambat oleh Prolactin Inhibiting Hormone (PIH).
Pada akhir masa kehamilan payudara akan memproduksi kolostrum walaupun jumlah air susu yang dapat dihasilkan belum banyak. Kondisi yang demikian disebabkan oleh kerja dari hormon progesteron. Saat bersalin, saat plasenta keluar dari tubuh, kadar progesteron langsung turun secara drastis, sedangkan hormon prolaktin tetap tinggi. Keadaan yang demikian membuat produksi susu meningkat jumlahnya. Proses produksi sampai air susu memenuhi payudara adalah satu hingga tiga hari. Oleh karena itu, jangan khawatir apabila air susu belum keluar atau yang keluar hanya sedikit sekali pada hari-hari pertama. Pada saat ini yang keluar masih kolostrum.
Kolostrum adalah cairan pertama yang diproduksi payudara saat produksi ASI dimulai. Cairan kolostrum berbentuk encer, manis, dan mudah dicerna. Awalnya kolostrum berbentuk kental dan berwarna kuning. Semakin dekat dengan persalinan, kolostrum mencair dan berwarna pucat.
Pada saat Air Susu Ibu (ASI) sudah diproduksi, peran hormon oksitosin dibutuhkan.Hormon ini memastikan terjadinya kerutan otot di sekitar saluran susu, menggerakkan susu dari kelenjar susu ke puting sehingga mudah dicapai oleh bayi saat disusui. Hmm...menarik bukan? Proses terjadinya ASI. Jadi, jangan lupa, "Say YES to ASI"
Merawat Masalah Kesuburan
Beberapa jenis teknik perawatan untuk masalah ketidaksuburan atau infertilitas yang memiliki tingkat keberhasilan cukup tinggi di antaranya yaitu:
Inseminasi Buatan
Inseminasi buatan atau artificial insemination (sering disingkat sebagai AI) dilakukan dengan memasukkan cairan semen yang mengandung sperma dari pria ke dalam organ reproduksi wanita tanpa melalui hubungan seks atau bukan secara alami. Cairan semen yang mengandung sperma diambil dengan alat tertentu dari seorang suami kemudian disuntikkan ke dalam rahim isteri sehingga terjadi pembuahan dan kehamilan. Biasanya dokter akan menganjurkan inseminasi buatan sebagai langkah pertama sebelum menerapkan terapi atau perawatan jenis lainnya.
GIFT (Gamete Intrafallopian Transfer)
GIFT yang merupakan singkatan dari Gamete Intrafallopian Transfer merupakan teknik yang mulai diperkenalkan sejak tahun 1984. Tujuannya untuk menciptakan kehamilan. Prosesnya dilakukan dengan mengambil sel telur dari ovarium atau indung telur wanita lalu dipertemukan dengan sel sperma pria yang sudah dibersihkan. Dengan menggunakan alat yang bernama laparoscope, sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan tersebut dimasukkan ke dalam tuba falopi atau tabung falopi wanita melalui irisan kecil di bagian perut melalui operasi laparoskopik. Sehingga diharapkan langsung terjadi pembuahan dan kehamilan.
IVF (In Vitro Fertilization)
IVF atau In Vitro Fertilization dikenal juga sebagai prosedur bayi tabung. Mula-mula sel telur wanita dan sel sperma dibuahi di media pembuahan di luar tubuh wanita. Lalu setelah terjadi pembuahan, hasilnya yang sudah berupa embrio dimasukkan ke dalam rahim melalui serviks.
ZIFT (Zygote Intrafallopian Transfer)
ZIFT atau Zygote Intrafallopian Transfer merupakan teknik pemindahan zigot atau sel telur yang telah dibuahi. Proses ini dilakukan dengan cara mengumpulkan sel telur dari indung telur seorang wanita lalu dibuahi di luar tubuhnya. Kemudian setelah sel telur dibuahi, dimasukkan kembali ke tuba falopi atau tabung falopi melalui pembedahan di bagian perut dengan operasi laparoskopik. Teknik ini merupakan kombinasi antara teknik IVF dan GIFT.
ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection)
ICSI atau Intracytoplasmic Sperm Injection dilakukan dengan memasukkan sebuah sel sperma langsung ke sel telur. Dengan teknik ini, sel sperma yang kurang aktif maupun tidak matang dapat digunakan untuk membuahi sel telur.
Inseminasi Buatan
Inseminasi buatan atau artificial insemination (sering disingkat sebagai AI) dilakukan dengan memasukkan cairan semen yang mengandung sperma dari pria ke dalam organ reproduksi wanita tanpa melalui hubungan seks atau bukan secara alami. Cairan semen yang mengandung sperma diambil dengan alat tertentu dari seorang suami kemudian disuntikkan ke dalam rahim isteri sehingga terjadi pembuahan dan kehamilan. Biasanya dokter akan menganjurkan inseminasi buatan sebagai langkah pertama sebelum menerapkan terapi atau perawatan jenis lainnya.
GIFT (Gamete Intrafallopian Transfer)
GIFT yang merupakan singkatan dari Gamete Intrafallopian Transfer merupakan teknik yang mulai diperkenalkan sejak tahun 1984. Tujuannya untuk menciptakan kehamilan. Prosesnya dilakukan dengan mengambil sel telur dari ovarium atau indung telur wanita lalu dipertemukan dengan sel sperma pria yang sudah dibersihkan. Dengan menggunakan alat yang bernama laparoscope, sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan tersebut dimasukkan ke dalam tuba falopi atau tabung falopi wanita melalui irisan kecil di bagian perut melalui operasi laparoskopik. Sehingga diharapkan langsung terjadi pembuahan dan kehamilan.
IVF (In Vitro Fertilization)
IVF atau In Vitro Fertilization dikenal juga sebagai prosedur bayi tabung. Mula-mula sel telur wanita dan sel sperma dibuahi di media pembuahan di luar tubuh wanita. Lalu setelah terjadi pembuahan, hasilnya yang sudah berupa embrio dimasukkan ke dalam rahim melalui serviks.
ZIFT (Zygote Intrafallopian Transfer)
ZIFT atau Zygote Intrafallopian Transfer merupakan teknik pemindahan zigot atau sel telur yang telah dibuahi. Proses ini dilakukan dengan cara mengumpulkan sel telur dari indung telur seorang wanita lalu dibuahi di luar tubuhnya. Kemudian setelah sel telur dibuahi, dimasukkan kembali ke tuba falopi atau tabung falopi melalui pembedahan di bagian perut dengan operasi laparoskopik. Teknik ini merupakan kombinasi antara teknik IVF dan GIFT.
ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection)
ICSI atau Intracytoplasmic Sperm Injection dilakukan dengan memasukkan sebuah sel sperma langsung ke sel telur. Dengan teknik ini, sel sperma yang kurang aktif maupun tidak matang dapat digunakan untuk membuahi sel telur.
Mengantuk dimalam hari
mengapa saat malam kita mengantuk? Atau mengapa bila masyarakat pedesaan yang belum ada listrik cenderung tidur lebih cepat? Jawabannya adalah karena adanya hormon melatonin. SCN akan memerintahkan tubuh untuk mengeluarkan hormon melatonin ini saat hari sudah gelap. Selanjutnya, hormon melatonin akan memerintahkan tubuh untuk beristirahat. Namun dengan kehadiran lampu listrik yang membuat suasana malam hari menjadi terang menghambat dikeluarkannya hormon melatonin, sehingga saat ini jam tidur manusia lebih larut malam daripada sebelumnya.
Tubuh kita mudah beradaptasi. Misalnya, untuk pekerja yang bekerja saat malam hari, SCN akan beradaptasi dalam mengeluarkan hormon melatonin sehingga mereka akan tetap terjaga walaupun hari sudah gelap. Bila malam semakin larut, kita akan lebih merasakan kantuk, ini disebabkan hormon melatonin yang dihasilkan semakin meningkat dan juga turunnya suhu tubuh dan tekanan darah dalam tubuh.
Tubuh kita mudah beradaptasi. Misalnya, untuk pekerja yang bekerja saat malam hari, SCN akan beradaptasi dalam mengeluarkan hormon melatonin sehingga mereka akan tetap terjaga walaupun hari sudah gelap. Bila malam semakin larut, kita akan lebih merasakan kantuk, ini disebabkan hormon melatonin yang dihasilkan semakin meningkat dan juga turunnya suhu tubuh dan tekanan darah dalam tubuh.
Langganan:
Postingan (Atom)